Ma'asyiral Muslimin, Jamaah jumat rahimakumullah
Pertama-tama, marilah kita memulai dengan mengungkapkan syukur kita kepada Allah SWT. Setiap hari anugerah dan nikmat-Nya turun kepada kita, meskipun setiap hari kita tak pernah absen melakukan dosa dan kesalahan kepada-Nya. Setiap saat limpahan rezeki-Nya dikucurkan pada kita sehingga tercukupi kebutuhan sandang, pangan dan papan kita, meskipun pada saat yang sama kita terasa berat untuk beramal dan berinfaq di jalan-Nya. Setiap waktu, belaian kasih sayang-Nya, rahman dan rahim-Nya senantiasa kita rasakan, meskipun kita sering melalaikan perintah-perintah-NyaShalawat dan salam kita haturkan pada junjungan kita Nabi besar Muhammad saw yang telah membimbing kita menuju risalah Allah, yakni dienul Islam. Beliau tidak hanya menyampaikan ajaran tetapi juga memberikan ketauladanan paripurna pada kita: bagaimana menjadi hamba Allah yang taat, bagaimana menjadi suami dan kepala keluarga yang bertanggungjawab, bagaimana menjadi pejabat publik yang amanah, bagaimana menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. "Laqad kaana lakum fii rasulillahi uswatun khasanah" (Sungguh dalam diri Rasulullah terdapat keteladanan yang baik). Saat kita menghadapi krisis keteladanan, saat kita kehilangan pemimpin yang layak dicontoh, saat kita tidak menemukan tokoh idola yang bisa dijadikan model, nilai-nilai keteladanan Rasululullah saw 15 abad silam sangat relevan kita hadirkan di era kontemporer dewasa ini.
Hadirin siding jumat Rokhimakumullah
Berakhirnya bulan Ramadhan ,memunculkan dua perasaan sekaligus, yakni sedih dan gembira. Kita sedih karena Ramadhan terasa begitu cepat berlalu, padahal belum banyak rasanya amal shalih yang kita lakukan, belum banyak shadaqah yang kita berikan, belum banyak ayat-ayat Qur'an yang kita lantunkan, dan belum banyak sujud yang kita kerjakan. Padahal, tahun depan belum tentu kita bias berjumpa kembali dengan Ramadhan yang mulia ini. Siapa yang bisa memberikan jaminan, bahwa Ramadhan dan Idul Fitri tahun depan Malaikat maut tidak datang menjemput kita ? Siapa yang bisa memberikan kepastian bahwa ajal kita tak kan tiba mendahului Ramadhan dan Idul Fitri tahun depan ?
Marilah kita melihat ke kiri dan ke kanan kita. Marilah kita periksa orang-orang yang kita cintai: ayah-bunda, saudara, istri, suami, tetangga, sahabat, dan handai taulan. Adakah di antara mereka yang tak lagi berada di tengah-tengah kita? Adakah di antara mereka yang sudah meninggalkan kita kembali kepada Yang Maha Suci? Ke manakah ayah atau Ibu yang tahun lalu menyambut uluran tangan kita dengan tetesan air mata kasih sayang? Ke mana kakak atau adik kita yang pada Lebaran lalu masih berbagi bahagia bersama kita? Ke manakah tetangga atau sahabat dekat yang dulu pernah memeluk kita dan mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri? Ya Allah, mereka telah kembali kepada-Mu. Mereka telah "mudik" ke kampung halaman yang abadi memenuhi panggilan Ilahi Rabbi. Kita tidak tahu, apakah Ramadhan dan Idul Fitri kali ini merupakan Ramadhan dan Idul Fitri kita yang terakhir. "Kullu nafsin dzaa iqatul maut", Setiap yang berjiwa pasti akan menghadapi kematian."
Itu semua kita mafhum. Yang jadi persoalan adalah, apakah kita telah siapkan pundi-pundi amal yang akan menjadi bekal saat kita mudik ke akhirat, kampung halaman kita yang abadi? Andaikan, setelah Idul Fitri ini, Malaikat maut datang menjemput, sudah cukupkah perbekalan kita yang kelak akan menyelamatkan kita dari semua prosedur pemeriksaan di akhirat yang pasti kita lewati? Bagaimana dengan shalat kita, bagaimana dengan tahajud kita, bagaimana dengan puasa kita, bagaimana dengan amal sholeh kita, bagaimana dengan bakti kita pada orang tua, bagaimana kontribusi kita pada dakwah dan syiar agama Allah ?, saatnya kita melakukan instropeksi, koreksi diri dengan hati yang tulus dan jujur, untuk bersama-sama memperbaiki diri guna meraih ridha Ilahi Rabbi.
Di sisi lain, berakhirnya Ramadhan membawa kegembiraan kita tersendiri., di Idul Fitri ,kita diwisuda atas kelulusan kita menempuh ujian wajib selama satu bulan untuk menahan diri dari segala hal yang membatalkan dan mengurangi makna puasa. Saatnya kita meraih kemenangan, saatnya kita menggapai ampunan-Nya. Allah berjanji, sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad saw,:
"Barang siapa yang menegakkan puasa karena iman dan penuh keikhlasan, maka Allah akan ampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
Inilah saatnya kita kembali pada fitrah kita, kembali pada kesucian kita. Kita dilahirkan dalam keadaan fitrah, suci dan cenderung pada kebenaran yang hakiki. Akan tetapi, setelah kita menginjak dewasa, pergaulan kita semakin luas, kebutuhan hidup kita semakin banyak, angan-angan kita semakin menerawang, jiwa yang suci tadi terkontaminasi dengan virus-virus kemaksiyatan, dengan debu-debu dosa kepada Allah. Semua anggota tubuh kita memberikan kontribusi dalam berbuat dosa. Lisan kita, berapa banyak orang yang telah tersakiti oleh lidah kita ? Mata kita, berapa banyak pendangan haram yang telah dilakukan oleh mata kita? Hati kita, berapa banyak penyakit hati telah bersemayam dalam hati kita, seperti iri, dengki, buruk sangka, sombong, dsb? Tangan kita, berapa banyak dosa yang telah dilakukan akibat tangan kita.
Ramadhan hadir sebagai sarana untuk melakukan tazkiyatun nafs, pensucian jiwa. Lisan, mata, telinga, hati dan pikiran kita dibersihkan, dikarantina selama Ramadhan melalui puasa dan berbagai latihan pengendallian diri selama sebulan. "Qad aflakha man zakkaha wa qad kho baman dassaha" (Beruntunglah orang-orang yang mensucikan diri dan rugilan orang-orang yang mengotori dirinya). Ibadah Ramadhan yang kita jalankan sebulan penuh, adalah sarana untuk menemukan kembali jalan menuju fitrah.
Ma'asyiral muslimin, Jamaah jumat yang berbahagia
Dr. Yusuf al-Qardhawy, ulama Timur Tengah yang disegani dunia Islam, menyebut Ramadhan sebagai madrasah mutamaiyyizah atau lembaga pendidikan istimewa bagi orang beriman. Bagi orang beriman, Ramadhan merupakan training center atau kawah candradimuka, tempat penggemblengan jiwa agar menjadi pribadi yang paripurna. Selama satu bulan, kita dilatih untuk melakukan tazkiyatun nafs, pensucian jiwa melalui tarbiyah dengan nilai-nilai Ramadhan yang diharapkan dapat kita jadikan bekal untuk memasuki 11 bulan yang akan datang. Otak kita dibersihkan, emosi kita dicerdaskan, spiritual kita dicerahkan, dan religiusitas kita dimantapkan. Hal itu tidak lain untuk mengantarkan kita sebagai insan muttaqin (manusia bertaqwa), sebagaimana dinyatakan Allah dalam Qs Al Baqarah
$ygr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä |=ÏGä. ãNà6øn=tæ ãP$uÅ_Á9$# $yJx. |=ÏGä. n?tã úïÏ%©!$# `ÏB öNà6Î=ö7s% öNä3ª=yès9 tbqà)Gs? ÇÊÑÌÈ
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi taqwa."
Dalam agama kita, taqwa adalah ultimate goal seluruh rangkaian peribadatan: perintah shalat, ujungnya adalah taqwa, perintah zakat ujungnya adalah taqwa, perintah puasa ujungnya adalah taqwa, perintah haji ujungnya adalah taqwa. Taqwalah yang menentukan posisioning kita di hadapan Allah Yang Maha Agung, bukan harta kita--seberapa banyak pun harta yang kita miliki, bukan gelar akademik kita, seberapa hebat dan panjang pun gelar kita, bukan jabatan kita, seberapa tinggi pun kedudukan kita, bukan pula afiliasi kepartaian kita, apapun partai yang kita anut.
$pkr'¯»t â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.s 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© @ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ×Î7yz ÇÊÌÈ
13. Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS Al Hujurat: 13). Begitu pentingnya taqwa, sampai Nabi berwasiat agar kita menjaga ketaqwaan, di manapun kita berada "Ittaqullah, khaitsumma kunta" (Bertaqwalah kepada Allah, di manapun kalian berada)."
Jamaah jumat rokhimakumullah
Bulan ramadhan boleh berlalu, tetapi satu hal tidak boleh meninggalkan kita dan harus tetap bersama kita, yaitu spirit dan moralitas shiyamu ramadhan. Inilah yang harus mangisi sebelas bulan ke depan dalam perjalanan hidup kita, sebagai pribadi, keluarga, warga masyarakat, ummat dan bangsa. Prestasi yang kita capai dengan 'ibadat ramadhan hendaklah kita jadikan modal untuk meraih "shiyamuddahri" , yakni nilai, pahala serta kebaikan puasa sepanjang masa. Agar hidup kita tidak pernah lepas dari keberkahan, dari maghfirah dan rahmat Allah SWT.
Ramadhan telah meng-upgrade pribadi muslim menjadi pribadi mu'min, dari keislaman yang bersifat status atau pengakuan menjadi keislaman komitmen dan kepatuhan. Dengan menghadirkan serta meneguhkan basis iman, setiap muslim mampu menjaga diri dari pelbagai kema'siatan.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah
Adapun akhlaqiyah atau nilai-nilai moralitas Ramadhan yang penting untuk tetap dipertahankan pasca ramadhan adalah sbb:
1. Suasana Religius
Suasana yang bernuansa agama selama Ramadhan sangat terasa, baik di rumah kita, di lingkungan kita, di masjid kita dan bahkanm di televise kita. Cobalah lihat, masjid, mushola dan surau jamaahnya penuh saat Ramadhan. Kita yang sebelum ramadhan jarang berjamaah shalat di masjid, saat Ramadhan ringan betul melangkahkan kaki bersama anak-anak ke masjid. Karena itu, meski Ramadhan telah berlalu, mari tetap kita hidupkan masjid-masjid kita dengan melestarikan shalat berjamaah di masjid.
2. Kemampuan mengendalikan diri
Esensi dari puasa (ash-shiyam) adalah al-imsak, yang artinya mengendalikan diri. Kemampuan pengendalian diri ini merupakan kunci sentral terwujudnay tatanan yang baik dalam masyarakat. Sebaliknya, kegagalan mengendalikan diri dari godaan nafsu syaitan, akan meninimbulkan berbagai masalah dalam kehidupan.
3.Kesadaran akan pengawasan Allah (ma'iyatullah).
Saat kita sendirian di suatu tempat yang tidak ada orang lain melihat, kita sebenarnya bisa saja makan atau minum dan kemudian berpura-pura puasa kembali. Tidak ada orang yang tahu. Akan tetapi hal itu tidak dilakukan karena orang-orang yang berpuasa sadar akan kebersamaan Allah dalam hidupnya (ma'iyatullah). Meskipun orang lain tidak melihat, tetapi kita sadar bahwa Allah melihat kta. Berbagai penyelewengan yang terjadi dalam masyarakat, termasuk korupsi dan kolusi, dikarenakan tidak adanya kesadaran pelakunya bahwa Allah melihat perbuatan dan tingkah lakunya. Mereka merasa aman dapat merekayasa agar orang lain tidak tahu, agar terbebas dari pemeriksaan auditor. Padahal ada auditor Yang Maha Agung dan Maha Melihat yang mengawasi dan mengetahui seluruh perbuatan mereka.
Sifat ini telah disebutkan di dalam banyak tempat dalam Al-Quran. Di antaranya, firman Allah:
uqèd Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur Îû ÏpGÅ 5Q$r& §NèO 3uqtGó$# n?tã ĸóyêø9$# 4 ÞOn=÷èt $tB ßkÎ=t Îû ÇÚöF{$# $tBur ßlãøs $pk÷]ÏB $tBur ãAÍ\t z`ÏB Ïä!$uK¡¡9$# $tBur ßlã÷èt $pkÏù ( uqèdur óOä3yètB tûøïr& $tB öNçGYä. 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=uK÷ès? ×ÅÁt/ ÇÍÈ
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian dia bersemayam di atas ´arsy[dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya [dan dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. -Hadid: 4)
Inilah sikap ikhsan. Kalau sikap ini kita lestarikan pasca Ramadhan, khususnya oleh politisi, pejabat public dan pelaku bisnis, insya Allah berbagai penyimpangan yang terjadi akan bisa diminimalisir.
4.Al tathahhur yakni membersihkan diri
Ramadhan adalah bulan suci, dan bagi yang menjalankannya dengan baik akan membersihkan dirinya dari segala noda dan dosa, sebab sebulan penuh orang yang puasa menjalani proses pembersihan yang menyeluruh. Hanya dengan cara demikian puasa seseorang diterima, dan do'anya dikabulkan. Kemudian bersama 'idul fithri sepenuhnya kembali kepada kondisi fithrah. Adalah penting kita ingatkan kepada diri, janganlah apa yang sudah suci kita nodai lagi, sikap perilaku yang sudah bersih jangan kita kotori lagi.Penghasilan yang sudah halal dan thayyib jangan sampai kita campuri lagi dengan yang remang-remang (syubhat) apalagi yang jelas-jelas haram. Puasa ramadhan melatih kita bersabar dan kuat menahan lapar, dan menegaskan bahwa kita tidak akan pernah kuat menahan panasnya api neraka.
5.Membiasakan memandang dengan hati
Hari itu Abdullahbin Masud masuk ke rumah Rasulullah.sebuah ruangan yang lebih layak di sebut bilik kecil ,di masjid nabawi,Terlihat olehnya Rasulullah sedang lelap dalam tidurnya.Dalam ruangan yang sangat sederhana itu, Rasulullah tidur begitu saja ,hanya beralaskan tikar kasar, tidak ada kasur,tidak juga tumpukan bantal yang nyaman dan menenangkan,tak lama Rasul pun terbangun,Nampak dipipinya garis garis tikar yang membekasjelas, Seorang Rasul mulia ,manusia pilihan ,tidur hanya dengan tikar kasar,yang lantas mengguratkan garis-garis dipipinya. Melihat kondisi Rasulullah seperti itu ,abdulah bin masud sangat terharu ,hingga akhirnya ,ia tak kuasa membendung air matanya, Abdullah bn mas’ud menangis ,segera mendekati Rasulullah ,lalu menghapus debu yang menempel dipipinya yang mulia. Melihat Abdullaah bin masud menangis ,Rassul bertanya ‘wahai Abdullah apa yang engkau tangisi ?Abdullah bin mas’ud menjawab “Ya Rasulullah ,aku teringat kemewahan para kaisar Persia dan romawi .mereka tidur diatas hamparan sutra yang lembut …Ya itulah jawaban Abdullah bn mas’ud yang menyebabkan Ia menangis ..Rasul mulia yng membawa agama kebenaran .membawa wahhyu dari langit ,tidur di ruangan sempit dengan alas apa adanya .sementara itu para pembesar-pembesar Persia dan romawi yang kafir dan memusuhi islam ,bisa tidur dalam segala kemewahan. Mendengar jawaban Abdullah bin mas’ud itu,Rasulu pun berusaha menghibur nya,Rasul mengatakan ..tidakkah engkau rela mereka memiliki dunia ini .sedangkan kita memiiki akhirat? Aku dan dunia ini ibarat seseorang yang berjalan di bawah terik matahari .kemudian ia berteduh dibawah pohon ,ketika hari sudah teduh kembali iapun harus pergi .
Begitulah. Tangisan Abdullah bin mas’ud adalah tangis keimanan .tangis yang mengalir daei air mata cinta kepada rasulnya. Sesuatu yang merupakan bagian penting dari keseluruhan serat-serat cinta seorang mukmin ,setelah cintanya kepada Allah SWT . itu adalah tangis kepedihan ,atas kertidakmengertian “ dunia akan arti dan harga sebuah kemuliaan ,bahwa semestinya ,para pengikut kekafiran ,yang berlomba-lomba sekuat tenagauntuk menghalangi kebenaran ,yang berusaha dengan segala daya untuk memadamkan cahaya iman.,atau para penyebar kebusukan dan keculasan dalam egala bentuknya ,semestinya mereka tak menikmati gemerlap dunia ini .sebaliknya Rasull mulia yang membimbing manusia meninggalkan kegelapan ,menuju cahaya islam . semestinya mendapat kesenangan dunia yang layak. Tapi tangisan Abdullah bukan tangisan ratapan akan kemewahan dunia yang seakantak berpihak kepada Rasul junjunganya.atau juga kepada dirinya ,Tidak ia tahu betul bagaimana memaknai imanya kepada Allah,juga kepada Rasulnya .tetapidisinilah kita menyaksikan ,bahwa sisi kemanusiaan seorang Abdullah muncul dan mengalirkan gelombang rasa gundah yang sangat alami .apa yang dilihat dengan mata kepalanya ,tentang tidur Rasullullah yang sangat bersahaja ,juga tentang goresan-goresan bekas tikar itu ,adalah obyek pemglihatan mata yang sangat kontras ,sebuah pandangan yang seketika menghentak sisi kemanusiaan Abdullah.
Pada sisi inilah sebuah pelajaran penting harus di cerna oleh setaiap muslim . betapa akan banyak saat-saatdimana sisi kemanusiaan kita dihentak –hentak oleh fakta –fakta kehidupan yang terasa aneh ,ganjil, dan menyesakkan .disisi lain tangisan Abdullah ,menjadi semacam perlambang betapa tidak mudah bagi sisi manusiawi setiap orang ,bahkan juga seorang mukmin ,untukmenerima ganjilnya pemihakan dunia kepada orang yang salah. Tetapi sekkejab gundah dan tangisnya ,adalah sehampar pelajaran bagi orang –orang beriman sesudahnya. Betapa bila kita mengukur hidup ini dengan timbangan dunia ,akan banyak hal-hal yang sangat menyesakkan. Maka gemerlap dunia membutuhkan penyikapan yang arif ,tidak hanya dengan menggunakan sisi –sisi kemanusiaan semata .dibutuhkan mata hati ,dan tidak sekedar mata kepala ,di butuhkan ketajaman iman ,dan kelembutan hati. Jawaban Rasulullah di atas tidak saja menyejukkan ,dan menghapus kegundahan Abdullah ,namun sekaligus menjadi pakem-pakem penting tentang bagaimana ketimpangan dunia mendapat jawaban yang sangat tuntas dan paripurna.jawaban Rasulullah sekali lagi adalah bagaimana sesuatu yang secara lahiriah aneh dan ganjil,bisa jadi sesungguhnya secara substansial betul-betul adil, bagai mana sesuatu yang secara mata telanjang terlihat pahit ,boleh jadi sesungguhnya itu adalah benih-benih bagi akhir yang manis dan kesudahan yang membahagiakan .itulahg jawaban iman .dibutuhkan mata hati yang mampu menembus dinding-dinding fisik duniawi .
Tentu,tidak mudah menerima dengan tabah ‘ketimpangan ‘itu lalu membalikan menjadi penghibur hati dan penyubur bagi cahaya iman ,karena kuncinya ada pada kemampuan memandang segala sesuatu dari sudut yang lain ,tidak saja dari sisi lahiriah saja .kita harus bisa melihat apa yang sesungguhnya ada di balik segala yang nyata itu.dunia yang mewah dan gemerlap ini memang sangat memukau .tapi mata iman melihatnya tak lebih dari tempat berteduh sesaat ,dari panas matahari,bagi perjalanan yang melelahkan..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar