Sabtu, 28 Februari 2009

Energi yang tak pernah habis

Hadirin siding jumat

Perjalanan ini memang panjang dan melelahkan. Terkadang, mungkin kita terengah-engah kehabisan nafas untuk terus menapakkan kaki hingga sampai ke tujuan. Terkadang, mungkin kita terseok-seok merasa tak kuat dan hampir tertinggal oleh derap serta gerak laju kehidupan Terkadang, mungkin kita tersandung dan terjatuh oleh aral dan kesulitan perjalanan.

Saudaraku yang dirahmati Allah,
Tak satupun di antara kita yang tak pernah mengalami suasana perasaan seperti itu. Hampir semua kita, sekokoh,sekuat,sehebat apapun kepribadian kita, pasti akan mengalami situasi lemah dan merasa kekurangan tenaga. Memang demikianlah jiwa manusia, seperti yang pernah disabdakan Rasulullah SAW dalam salah satu hadits shahih,AL IMAANU YAJIDU WAL YANKUSH bahwa keimanan itu ada kalanya bertambah dan berkurang. Ia bertambah karena amal shalih, dan berkurang karena kemaksiatan



Karena itu Saudaraku,
Sebaik apa pun seorang manusia itu dipandang oleh manusia lainnya ia tak ‘kan pernah menjadi malaikat, apalagi sosok yang patut disembah. Karena dalam dirinya, bukan cuma ada nalar dan nurani, di sana juga ada naluri. Dalam dirinya, bukan Cuma ada akal dan iman, namun juga ada syahwat. Sungguh, bukan cuma kekuatan dan kebijakasanaan yang ada di sana, namun juga kelemahan dan ketergelinciran serta berbagai keterbatasan. Ia tak ‘kan jadi sempurna dalam pengertiannya yang tanpa celah. Ia hanya jadi sempurna secara relatif sebagai manusia. Itulah batas akhirnya. Dan hidup, bagi mereka yang bijak, adalah perjalanan menuju ke sana. Tak ‘kan ada titik. Yang ada hanya koma, sampai kematian menutup perjalanan itu.

.Tapi ingat saudaraku,
Selama kita berusaha berada dalam jalan kebenaran, insya Allah kelemahan dan kekurangan kita tidak akan mampu menjatuhkan kita. Selama kita tetap komitmen bergerak dalam orbit komunitas jama'ah yang benar, insya Allah kita menerima banyak keistimewaan dan barakah. Selama kita tetap memelihara hubungan baik dengan sesame hamba Allah beriman insya Allah semua kelalaian dan penyimpangan kita kemungkinan besar akan dapat diluruskan dan kembali kepada jalan yang benar. Kesimpulannya, kita baru akan jatuh terpuruk, tenggelam, dan terseret oleh arus yang lain, tatkala kita berada di luar arus atau orbit jalan kebenaran

- Hidup sebagai sesuatu kadang seperti tulisan spanduk yang terikat di antara dua tiang. Hujan, panas, dan tangan-tangan usil bisa melunturkan keberadaan tulisan. Warna menjadi kabur, dan tulisan pun mulai luntur. Seperti itu pula mungkin ketika seseorang hidup sebagai muslim.Tak ada iman tanpa ujian. Kalimat itulah yang mesti dipegang seorang mukmin dalam mengarungi hidup. Susah senang adalah di antara ruang-ruang kehidupan di mana seorang mukmin diuji keimanannya. Ada yang lulus. Ada juga yang mesti mengulang.

Dalam Alquran Allah berfirman

÷Pr& óOçFö6Å¡ym br& (#qè=äzô‰s? sp¨Yyfø9$# $£Js9ur Nä3Ï?ù'tƒ ã@sW¨B tûïÏ%©!$# (#öqn=yz `ÏB Nä3Î=ö6s% ( ãNåk÷J¡¡¨B âä!$y™ù't7ø9$# âä!#§ŽœØ9$#ur (#qä9Ì“ø9ã—ur 4Ó®Lym tAqà)tƒ ãAqß™§9$# tûïÏ%©!$#ur (#qãZtB#uä ¼çmyètB 4ÓtLtB çŽóÇnS «!$# 3 Iwr& ¨bÎ) uŽóÇnS «!$# Ò=ƒÌs% ÇËÊÍÈ

214. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.

Mereka yang berguguran dalam perjuangan Islam adalah di antara yang mesti mengulang. Waktu memberikan mereka peluang untuk bangkit di lain kesempatan.Rasulullah saw. bersabda, "Allah menguji hamba-Nya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang keluar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang keluar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah)." (HR. Athabrani)

Ujian perjalanan keimanan seseorang tidak selalu pada hal besar. Bisa jadi terselip dalam kehidupan sehari-hari. Ada ujian tubuh yang rentan sakit. Ada rezeki yang muncul dalam tetesan kecil. Kadang ada, tapi kebanyakan tidak ada. Hidup menjadi sangat susah.Inilah ujian sehari-hari yang bisa menentukan seperti apa mutu seorang mukmin. Kalau hasil ujian menunjuk titik sabar, rezeki yang sedikit menjadi berkah. Sedikit, tapi punya mutu istimewa.Seperti itulah yang pernah diungkapkan Rasulullah saw. pada beberapa sahabat. "Sesungguhnya Allah Azza Wajalla menguji hambanya dengan rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia ridha dengan bagian yang diterimanya, maka Allah akan memberkahinya dan meluaskan pemberian-Nya. Kalau dia tidak ridha dengan pemberian-Nya, maka Allah tidak akan memberinya berkah." (HR. Ahmad)

Jika merujuk pada pengalaman Rasul dan para sahabat, kenyataan hidup memang tidak begitu beda. Sedikit di antara hamba-hamba Allah di masa itu yang kaya. Termasuk Rasul sendiri. Beliau dikenal yatim yang berbisnis pada usaha pamannya, Abu Thalib. Begitu pun para sahabat yang sebagian besar berstatus budak dan buruh. Apa yang bisa dilakukan pada kelompok seperti itu.Itulah yang pernah dialami Nabi Nuh dan para aktivis di sekitarnya. Mereka dianggap hina karena status sosial yang rendah. Allah swt. menggambarkan keadaan itu dalam surat Hud ayat 27

tA$s)sù _|yJø9$# tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. `ÏB ¾ÏmÏBöqs% $tB š1ttR žwÎ) #\t±o $oYn=÷VÏiB $tBur š1ttR šyèt7¨?$# žwÎ) šúïÏ%©!$# öNèd $oYä9ÏŒ#u‘r& y“ÏŠ$t Ä“ù&§9$# $tBur 3“ttR öNä3s9 $uZøŠn=tã `ÏB ¤@ôÒsù ö@t öNä3–YÝàtR šúüÎÉ‹»x. ÇËÐÈ

. "Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, 'Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja. Dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami. Bahkan, kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta."

Namun, sejarah memberikan pelajaran berharga. Para pejuang teladan yang dianggap punya status sosial rendah itu mampu memberikan bukti. Bahwa, kekayaan segala-galanya,bukan penentu sukses-tidaknya sebuah perjuangan. Ada hal lain yang jauh lebih penting sebagai energi utama. Energi utama itu tersimpan dalam kekuatan ruhiyah yang tinggi.Rasulullah saw. mengungkapkan itu dalam sebuah sabdanya. "Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang mukmin yang lemah dalam segala kebaikan. Peliharalah apa-apa yang menguntungkan kamu dan mohonlan pertolongan Allah. Jangan lemah semangat (putus asa). Jika ditimpa suatu musibah janganlah berkata, 'Oh andaikata aku tadinya melakukan itu tentu berakibat begini dan begitu.' Tetapi, katakanlah, 'Ini takdir Allah dan apa yang dikehendaki Allah pasti dikerjakan-Nya." Ketahuilah, sesungguhnya ucapan 'andaikan' dan 'jikalau' hanya membuka peluang bagi karya setan." (HR. Muslim)

Kenyataannya, energi yang dimiliki para pejuang Islam dari masa ke masa ada dalam ruhani mereka. Mereka begitu dekat dengan Yang Maha Kuat, Allah swt. Siang mereka seperti pendekar yang menggempur musuh dengan gagah berani. Tapi malam, mereka kerap menangis dalam hamparan sajadah karena hanyut dalam zikrullah. Hati mereka begitu terpaut dalam kasih sayang Allah swt.Suatu kali Rasulullah saw. meminta Ibnu Mas'ud membaca Alquran. Ibnu Mas'ud agak kaget. "Bagaimana mungkin saya membacakan pada Anda Alquran, padahal ia datang melalui Anda?" Rasulullah saw. pun meminta Ibnu Mas'ud untuk membaca. Dan sahabat Rasul itu pun membaca surah An-Nisa.Satu demi satu ayat dalam surah An-Nisa itu dibaca Ibnu Mas'ud. Hingga pada ayat ke-41. Rasul pun menangis. Tangisnya begitu jelas, hingga Ibnu Mas'ud menghentikan bacaannya. Ayat ke-41 itu berbunyi,

y#ø‹s3sù #sŒÎ) $uZ÷¥Å_ `ÏB Èe@ä. ¥p¨Bé& 7‰‹Îgt±Î0 $uZ÷¥Å_ur y7Î/ 4’n?tã ÏäIwàs¯»yd #Y‰‹Íky­ ÇÍÊÈ "Maka bagaimanakah apabila Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)."

Itulah energi yang begitu kuat.Energi yang tak pernah habis ,energy yang selalu ada, Sebuah kekuatan yang bisa memupus keraguan, kemalasan, dan rasa takut. Sebuah kekuatan yang bisa mengecilkan bentuk ujian hidup apa pun. Termasuk, ujian kemiskinan.

Kamis, 26 Februari 2009

Melestarikan nilai-nilai romadhon

Ma'asyiral Muslimin, Jamaah jumat rahimakumullah

Pertama-tama, marilah kita memulai dengan mengungkapkan syukur kita kepada Allah SWT. Setiap hari anugerah dan nikmat-Nya turun kepada kita, meskipun setiap hari kita tak pernah absen melakukan dosa dan kesalahan kepada-Nya. Setiap saat limpahan rezeki-Nya dikucurkan pada kita sehingga tercukupi kebutuhan sandang, pangan dan papan kita, meskipun pada saat yang sama kita terasa berat untuk beramal dan berinfaq di jalan-Nya. Setiap waktu, belaian kasih sayang-Nya, rahman dan rahim-Nya senantiasa kita rasakan, meskipun kita sering melalaikan perintah-perintah-NyaShalawat dan salam kita haturkan pada junjungan kita Nabi besar Muhammad saw yang telah membimbing kita menuju risalah Allah, yakni dienul Islam. Beliau tidak hanya menyampaikan ajaran tetapi juga memberikan ketauladanan paripurna pada kita: bagaimana menjadi hamba Allah yang taat, bagaimana menjadi suami dan kepala keluarga yang bertanggungjawab, bagaimana menjadi pejabat publik yang amanah, bagaimana menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. "Laqad kaana lakum fii rasulillahi uswatun khasanah" (Sungguh dalam diri Rasulullah terdapat keteladanan yang baik). Saat kita menghadapi krisis keteladanan, saat kita kehilangan pemimpin yang layak dicontoh, saat kita tidak menemukan tokoh idola yang bisa dijadikan model, nilai-nilai keteladanan Rasululullah saw 15 abad silam sangat relevan kita hadirkan di era kontemporer dewasa ini.

Hadirin siding jumat Rokhimakumullah

Berakhirnya bulan Ramadhan ,memunculkan dua perasaan sekaligus, yakni sedih dan gembira. Kita sedih karena Ramadhan terasa begitu cepat berlalu, padahal belum banyak rasanya amal shalih yang kita lakukan, belum banyak shadaqah yang kita berikan, belum banyak ayat-ayat Qur'an yang kita lantunkan, dan belum banyak sujud yang kita kerjakan. Padahal, tahun depan belum tentu kita bias berjumpa kembali dengan Ramadhan yang mulia ini. Siapa yang bisa memberikan jaminan, bahwa Ramadhan dan Idul Fitri tahun depan Malaikat maut tidak datang menjemput kita ? Siapa yang bisa memberikan kepastian bahwa ajal kita tak kan tiba mendahului Ramadhan dan Idul Fitri tahun depan ?

Marilah kita melihat ke kiri dan ke kanan kita. Marilah kita periksa orang-orang yang kita cintai: ayah-bunda, saudara, istri, suami, tetangga, sahabat, dan handai taulan. Adakah di antara mereka yang tak lagi berada di tengah-tengah kita? Adakah di antara mereka yang sudah meninggalkan kita kembali kepada Yang Maha Suci? Ke manakah ayah atau Ibu yang tahun lalu menyambut uluran tangan kita dengan tetesan air mata kasih sayang? Ke mana kakak atau adik kita yang pada Lebaran lalu masih berbagi bahagia bersama kita? Ke manakah tetangga atau sahabat dekat yang dulu pernah memeluk kita dan mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri? Ya Allah, mereka telah kembali kepada-Mu. Mereka telah "mudik" ke kampung halaman yang abadi memenuhi panggilan Ilahi Rabbi. Kita tidak tahu, apakah Ramadhan dan Idul Fitri kali ini merupakan Ramadhan dan Idul Fitri kita yang terakhir. "Kullu nafsin dzaa iqatul maut", Setiap yang berjiwa pasti akan menghadapi kematian."

Itu semua kita mafhum. Yang jadi persoalan adalah, apakah kita telah siapkan pundi-pundi amal yang akan menjadi bekal saat kita mudik ke akhirat, kampung halaman kita yang abadi? Andaikan, setelah Idul Fitri ini, Malaikat maut datang menjemput, sudah cukupkah perbekalan kita yang kelak akan menyelamatkan kita dari semua prosedur pemeriksaan di akhirat yang pasti kita lewati? Bagaimana dengan shalat kita, bagaimana dengan tahajud kita, bagaimana dengan puasa kita, bagaimana dengan amal sholeh kita, bagaimana dengan bakti kita pada orang tua, bagaimana kontribusi kita pada dakwah dan syiar agama Allah ?, saatnya kita melakukan instropeksi, koreksi diri dengan hati yang tulus dan jujur, untuk bersama-sama memperbaiki diri guna meraih ridha Ilahi Rabbi.

Di sisi lain, berakhirnya Ramadhan membawa kegembiraan kita tersendiri., di Idul Fitri ,kita diwisuda atas kelulusan kita menempuh ujian wajib selama satu bulan untuk menahan diri dari segala hal yang membatalkan dan mengurangi makna puasa. Saatnya kita meraih kemenangan, saatnya kita menggapai ampunan-Nya. Allah berjanji, sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad saw,:

"Barang siapa yang menegakkan puasa karena iman dan penuh keikhlasan, maka Allah akan ampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

Inilah saatnya kita kembali pada fitrah kita, kembali pada kesucian kita. Kita dilahirkan dalam keadaan fitrah, suci dan cenderung pada kebenaran yang hakiki. Akan tetapi, setelah kita menginjak dewasa, pergaulan kita semakin luas, kebutuhan hidup kita semakin banyak, angan-angan kita semakin menerawang, jiwa yang suci tadi terkontaminasi dengan virus-virus kemaksiyatan, dengan debu-debu dosa kepada Allah. Semua anggota tubuh kita memberikan kontribusi dalam berbuat dosa. Lisan kita, berapa banyak orang yang telah tersakiti oleh lidah kita ? Mata kita, berapa banyak pendangan haram yang telah dilakukan oleh mata kita? Hati kita, berapa banyak penyakit hati telah bersemayam dalam hati kita, seperti iri, dengki, buruk sangka, sombong, dsb? Tangan kita, berapa banyak dosa yang telah dilakukan akibat tangan kita.

Ramadhan hadir sebagai sarana untuk melakukan tazkiyatun nafs, pensucian jiwa. Lisan, mata, telinga, hati dan pikiran kita dibersihkan, dikarantina selama Ramadhan melalui puasa dan berbagai latihan pengendallian diri selama sebulan. "Qad aflakha man zakkaha wa qad kho baman dassaha" (Beruntunglah orang-orang yang mensucikan diri dan rugilan orang-orang yang mengotori dirinya). Ibadah Ramadhan yang kita jalankan sebulan penuh, adalah sarana untuk menemukan kembali jalan menuju fitrah.

Ma'asyiral muslimin, Jamaah jumat yang berbahagia

Dr. Yusuf al-Qardhawy, ulama Timur Tengah yang disegani dunia Islam, menyebut Ramadhan sebagai madrasah mutamaiyyizah atau lembaga pendidikan istimewa bagi orang beriman. Bagi orang beriman, Ramadhan merupakan training center atau kawah candradimuka, tempat penggemblengan jiwa agar menjadi pribadi yang paripurna. Selama satu bulan, kita dilatih untuk melakukan tazkiyatun nafs, pensucian jiwa melalui tarbiyah dengan nilai-nilai Ramadhan yang diharapkan dapat kita jadikan bekal untuk memasuki 11 bulan yang akan datang. Otak kita dibersihkan, emosi kita dicerdaskan, spiritual kita dicerahkan, dan religiusitas kita dimantapkan. Hal itu tidak lain untuk mengantarkan kita sebagai insan muttaqin (manusia bertaqwa), sebagaimana dinyatakan Allah dalam Qs Al Baqarah

$yg•ƒr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä |=ÏGä. ãNà6ø‹n=tæ ãP$u‹Å_Á9$# $yJx. |=ÏGä. ’n?tã šúïÏ%©!$# `ÏB öNà6Î=ö7s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? ÇÊÑÌÈ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi taqwa."

Dalam agama kita, taqwa adalah ultimate goal seluruh rangkaian peribadatan: perintah shalat, ujungnya adalah taqwa, perintah zakat ujungnya adalah taqwa, perintah puasa ujungnya adalah taqwa, perintah haji ujungnya adalah taqwa. Taqwalah yang menentukan posisioning kita di hadapan Allah Yang Maha Agung, bukan harta kita--seberapa banyak pun harta yang kita miliki, bukan gelar akademik kita, seberapa hebat dan panjang pun gelar kita, bukan jabatan kita, seberapa tinggi pun kedudukan kita, bukan pula afiliasi kepartaian kita, apapun partai yang kita anut.

$pkš‰r'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu‘$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& y‰YÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ

13. Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS Al Hujurat: 13). Begitu pentingnya taqwa, sampai Nabi berwasiat agar kita menjaga ketaqwaan, di manapun kita berada "Ittaqullah, khaitsumma kunta" (Bertaqwalah kepada Allah, di manapun kalian berada)."

Jamaah jumat rokhimakumullah

Bulan ramadhan boleh berlalu, tetapi satu hal tidak boleh meninggalkan kita dan harus tetap bersama kita, yaitu spirit dan moralitas shiyamu ramadhan. Inilah yang harus mangisi sebelas bulan ke depan dalam perjalanan hidup kita, sebagai pribadi, keluarga, warga masyarakat, ummat dan bangsa. Prestasi yang kita capai dengan 'ibadat ramadhan hendaklah kita jadikan modal untuk meraih "shiyamuddahri" , yakni nilai, pahala serta kebaikan puasa sepanjang masa. Agar hidup kita tidak pernah lepas dari keberkahan, dari maghfirah dan rahmat Allah SWT.

Ramadhan telah meng-upgrade pribadi muslim menjadi pribadi mu'min, dari keislaman yang bersifat status atau pengakuan menjadi keislaman komitmen dan kepatuhan. Dengan menghadirkan serta meneguhkan basis iman, setiap muslim mampu menjaga diri dari pelbagai kema'siatan.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah

Adapun akhlaqiyah atau nilai-nilai moralitas Ramadhan yang penting untuk tetap dipertahankan pasca ramadhan adalah sbb:

1. Suasana Religius

Suasana yang bernuansa agama selama Ramadhan sangat terasa, baik di rumah kita, di lingkungan kita, di masjid kita dan bahkanm di televise kita. Cobalah lihat, masjid, mushola dan surau jamaahnya penuh saat Ramadhan. Kita yang sebelum ramadhan jarang berjamaah shalat di masjid, saat Ramadhan ringan betul melangkahkan kaki bersama anak-anak ke masjid. Karena itu, meski Ramadhan telah berlalu, mari tetap kita hidupkan masjid-masjid kita dengan melestarikan shalat berjamaah di masjid.

2. Kemampuan mengendalikan diri

Esensi dari puasa (ash-shiyam) adalah al-imsak, yang artinya mengendalikan diri. Kemampuan pengendalian diri ini merupakan kunci sentral terwujudnay tatanan yang baik dalam masyarakat. Sebaliknya, kegagalan mengendalikan diri dari godaan nafsu syaitan, akan meninimbulkan berbagai masalah dalam kehidupan.

3.Kesadaran akan pengawasan Allah (ma'iyatullah).

Saat kita sendirian di suatu tempat yang tidak ada orang lain melihat, kita sebenarnya bisa saja makan atau minum dan kemudian berpura-pura puasa kembali. Tidak ada orang yang tahu. Akan tetapi hal itu tidak dilakukan karena orang-orang yang berpuasa sadar akan kebersamaan Allah dalam hidupnya (ma'iyatullah). Meskipun orang lain tidak melihat, tetapi kita sadar bahwa Allah melihat kta. Berbagai penyelewengan yang terjadi dalam masyarakat, termasuk korupsi dan kolusi, dikarenakan tidak adanya kesadaran pelakunya bahwa Allah melihat perbuatan dan tingkah lakunya. Mereka merasa aman dapat merekayasa agar orang lain tidak tahu, agar terbebas dari pemeriksaan auditor. Padahal ada auditor Yang Maha Agung dan Maha Melihat yang mengawasi dan mengetahui seluruh perbuatan mereka.

Sifat ini telah disebutkan di dalam banyak tempat dalam Al-Quran. Di antaranya, firman Allah:

uqèd “Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚö‘F{$#ur ’Îû Ïp­GÅ™ 5Q$­ƒr& §NèO 3“uqtGó™$# ’n?tã ĸóyêø9$# 4 ÞOn=÷ètƒ $tB ßkÎ=tƒ ’Îû ÇÚö‘F{$# $tBur ßlãøƒs† $pk÷]ÏB $tBur ãAÍ”\tƒ z`ÏB Ïä!$uK¡¡9$# $tBur ßlã÷ètƒ $pkŽÏù ( uqèdur óOä3yètB tûøïr& $tB öNçGYä. 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=uK÷ès? ׎ÅÁt/ ÇÍÈ

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian dia bersemayam di atas ´arsy[dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya [dan dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. -Hadid: 4)

Inilah sikap ikhsan. Kalau sikap ini kita lestarikan pasca Ramadhan, khususnya oleh politisi, pejabat public dan pelaku bisnis, insya Allah berbagai penyimpangan yang terjadi akan bisa diminimalisir.

4.Al tathahhur yakni membersihkan diri

Ramadhan adalah bulan suci, dan bagi yang menjalankannya dengan baik akan membersihkan dirinya dari segala noda dan dosa, sebab sebulan penuh orang yang puasa menjalani proses pembersihan yang menyeluruh. Hanya dengan cara demikian puasa seseorang diterima, dan do'anya dikabulkan. Kemudian bersama 'idul fithri sepenuhnya kembali kepada kondisi fithrah. Adalah penting kita ingatkan kepada diri, janganlah apa yang sudah suci kita nodai lagi, sikap perilaku yang sudah bersih jangan kita kotori lagi.Penghasilan yang sudah halal dan thayyib jangan sampai kita campuri lagi dengan yang remang-remang (syubhat) apalagi yang jelas-jelas haram. Puasa ramadhan melatih kita bersabar dan kuat menahan lapar, dan menegaskan bahwa kita tidak akan pernah kuat menahan panasnya api neraka.

5.Membiasakan memandang dengan hati

Hari itu Abdullahbin Masud masuk ke rumah Rasulullah.sebuah ruangan yang lebih layak di sebut bilik kecil ,di masjid nabawi,Terlihat olehnya Rasulullah sedang lelap dalam tidurnya.Dalam ruangan yang sangat sederhana itu, Rasulullah tidur begitu saja ,hanya beralaskan tikar kasar, tidak ada kasur,tidak juga tumpukan bantal yang nyaman dan menenangkan,tak lama Rasul pun terbangun,Nampak dipipinya garis garis tikar yang membekasjelas, Seorang Rasul mulia ,manusia pilihan ,tidur hanya dengan tikar kasar,yang lantas mengguratkan garis-garis dipipinya. Melihat kondisi Rasulullah seperti itu ,abdulah bin masud sangat terharu ,hingga akhirnya ,ia tak kuasa membendung air matanya, Abdullah bn mas’ud menangis ,segera mendekati Rasulullah ,lalu menghapus debu yang menempel dipipinya yang mulia. Melihat Abdullaah bin masud menangis ,Rassul bertanya ‘wahai Abdullah apa yang engkau tangisi ?Abdullah bin mas’ud menjawab “Ya Rasulullah ,aku teringat kemewahan para kaisar Persia dan romawi .mereka tidur diatas hamparan sutra yang lembut …Ya itulah jawaban Abdullah bn mas’ud yang menyebabkan Ia menangis ..Rasul mulia yng membawa agama kebenaran .membawa wahhyu dari langit ,tidur di ruangan sempit dengan alas apa adanya .sementara itu para pembesar-pembesar Persia dan romawi yang kafir dan memusuhi islam ,bisa tidur dalam segala kemewahan. Mendengar jawaban Abdullah bin mas’ud itu,Rasulu pun berusaha menghibur nya,Rasul mengatakan ..tidakkah engkau rela mereka memiliki dunia ini .sedangkan kita memiiki akhirat? Aku dan dunia ini ibarat seseorang yang berjalan di bawah terik matahari .kemudian ia berteduh dibawah pohon ,ketika hari sudah teduh kembali iapun harus pergi .

Begitulah. Tangisan Abdullah bin mas’ud adalah tangis keimanan .tangis yang mengalir daei air mata cinta kepada rasulnya. Sesuatu yang merupakan bagian penting dari keseluruhan serat-serat cinta seorang mukmin ,setelah cintanya kepada Allah SWT . itu adalah tangis kepedihan ,atas kertidakmengertian “ dunia akan arti dan harga sebuah kemuliaan ,bahwa semestinya ,para pengikut kekafiran ,yang berlomba-lomba sekuat tenagauntuk menghalangi kebenaran ,yang berusaha dengan segala daya untuk memadamkan cahaya iman.,atau para penyebar kebusukan dan keculasan dalam egala bentuknya ,semestinya mereka tak menikmati gemerlap dunia ini .sebaliknya Rasull mulia yang membimbing manusia meninggalkan kegelapan ,menuju cahaya islam . semestinya mendapat kesenangan dunia yang layak. Tapi tangisan Abdullah bukan tangisan ratapan akan kemewahan dunia yang seakantak berpihak kepada Rasul junjunganya.atau juga kepada dirinya ,Tidak ia tahu betul bagaimana memaknai imanya kepada Allah,juga kepada Rasulnya .tetapidisinilah kita menyaksikan ,bahwa sisi kemanusiaan seorang Abdullah muncul dan mengalirkan gelombang rasa gundah yang sangat alami .apa yang dilihat dengan mata kepalanya ,tentang tidur Rasullullah yang sangat bersahaja ,juga tentang goresan-goresan bekas tikar itu ,adalah obyek pemglihatan mata yang sangat kontras ,sebuah pandangan yang seketika menghentak sisi kemanusiaan Abdullah.

Pada sisi inilah sebuah pelajaran penting harus di cerna oleh setaiap muslim . betapa akan banyak saat-saatdimana sisi kemanusiaan kita dihentak –hentak oleh fakta –fakta kehidupan yang terasa aneh ,ganjil, dan menyesakkan .disisi lain tangisan Abdullah ,menjadi semacam perlambang betapa tidak mudah bagi sisi manusiawi setiap orang ,bahkan juga seorang mukmin ,untukmenerima ganjilnya pemihakan dunia kepada orang yang salah. Tetapi sekkejab gundah dan tangisnya ,adalah sehampar pelajaran bagi orang –orang beriman sesudahnya. Betapa bila kita mengukur hidup ini dengan timbangan dunia ,akan banyak hal-hal yang sangat menyesakkan. Maka gemerlap dunia membutuhkan penyikapan yang arif ,tidak hanya dengan menggunakan sisi –sisi kemanusiaan semata .dibutuhkan mata hati ,dan tidak sekedar mata kepala ,di butuhkan ketajaman iman ,dan kelembutan hati. Jawaban Rasulullah di atas tidak saja menyejukkan ,dan menghapus kegundahan Abdullah ,namun sekaligus menjadi pakem-pakem penting tentang bagaimana ketimpangan dunia mendapat jawaban yang sangat tuntas dan paripurna.jawaban Rasulullah sekali lagi adalah bagaimana sesuatu yang secara lahiriah aneh dan ganjil,bisa jadi sesungguhnya secara substansial betul-betul adil, bagai mana sesuatu yang secara mata telanjang terlihat pahit ,boleh jadi sesungguhnya itu adalah benih-benih bagi akhir yang manis dan kesudahan yang membahagiakan .itulahg jawaban iman .dibutuhkan mata hati yang mampu menembus dinding-dinding fisik duniawi .

Tentu,tidak mudah menerima dengan tabah ‘ketimpangan ‘itu lalu membalikan menjadi penghibur hati dan penyubur bagi cahaya iman ,karena kuncinya ada pada kemampuan memandang segala sesuatu dari sudut yang lain ,tidak saja dari sisi lahiriah saja .kita harus bisa melihat apa yang sesungguhnya ada di balik segala yang nyata itu.dunia yang mewah dan gemerlap ini memang sangat memukau .tapi mata iman melihatnya tak lebih dari tempat berteduh sesaat ,dari panas matahari,bagi perjalanan yang melelahkan..

Jiwa yang membaja

--------------------------------------------------------------------------------

Dalam musnad nya Imam MALIK , ALMUWATTHA terdapat kisah yang sangat menakjubkan dan penuh I’tibar ,dikisahkan seorang lelaki yang mudah dikenal, Yahya ibnu Yahya. Nun jauh dari Andalusia ia berasal. Ia pergi menuntut ilmu ke Madinah. Berguru pada Imam Malik. Andalusia-Madinah adalah jarak yang teramat jauh. Terlebih dengan sarana transportasi apa adanya di masa itu. Tetapi Yahya bin Yahya adalah salah satu contoh terbaik tentang bagaimana kehendak seorang muslim untuk tidak pernah berhenti menjadi berarti.

¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#qä9$s% $oYš/u‘ ª!$# §NèO (#qßJ»s)tFó™$# ãA¨”t\tGs? ÞOÎgøŠn=tæ èpx6Í´¯»n=yJø9$# žwr& (#qèù$sƒrB Ÿwur (#qçRt“øtrB (#rãÏ±÷0r&ur Ïp¨Ypgø:$$Î/ ÓÉL©9$# óOçFZä. šcr߉tãqè? ÇÌÉÈ

30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu".

Hari-hari menimba ilmu pun ia lalui di Madinah yang tenang. Di hadapan sang guru Imam Malik. Hingga suatu hari, saat tengah berada di majelis bersama murid-murid yang lain, tiba-tiba ada rombongan orang-orang entah dari mana. Mereka datang sambil membawa gajah. Para murid-murid Imam Malik berhamburan keluar ingin melihat gajah. Di jazirah Arab, makhluk besar berbelalai itu saat itu memang tergolong asing. Maka orang-orang pun keluar ingin melihat lebih dekat. Begitu pun murid-murid Imam Malik. Semua beranjak, kecuali Yahya bin Yahya. Hingga semua keluar Yahya tetap duduk di majelis itu. Melihat itu Imam Malik mendekat. "Mengapa engkau tidak keluar juga untuk melihat gajah?" tanya Imam Malik. Yahya menjawab, "Aku jauh-jauh datang dari Andalusia untuk menuntut ilmu, bukan untuk melihat gajah." Imam Malik sangat kagum dengan keteguhan Yahya. Setelah itu Imam Malik pun menggelarinya dengan 'aqilu Andalus (lelaki berakal dari Andalusia).

Lelaki berakal, Yahya bin Yahya telah meletakkan prinsip mendasar di atas jalan hidupnya. Ia mengerti sedang di jalan apa berlalu dan ke arah mana menuju. Ia seperti tengah menegaskan, betapa ia tidak boleh berhenti, di jalur kehendak dan cita-citanya, oleh sesuatu yang sederhana. Sekiranya ia sejenak keluar, melihat gajah bersama teman-temannya, itu pun tak jadi soal besar. Toh Imam Malik sejenak tidak melanjutkan pelajarannya, sebab semua murid-muridnya keluar. Tetapi filosofi luhur di balik sikapnya itu, mencerminkan sebuah kecerdasan, tentang bagaimana seorang muslim memahami godaan-godaan konsistensi, yang kadang menghentikan dan menghempaskan. Betapa ia tidak boleh terhenti oleh godaan-godaan itu. Maka lelaki itu benar-benar layak disebut 'aqilu Andalus.

Betapa sering perjalan hidup kita terhenti. Bahkan oleh hal-hal yang tidak terlalu serius. Betapa banyak orang berhenti dari mengejar cita-cita, kehendak mulia, mimpi-mimpi fantastik dalam capaian prestasi, hanya lantaran keteledoran, hanya karena ulah menyimpang yang mulanya hanya iseng-iseng belaka, atau mental 'nanti dulu', atau sikap 'sebentar dulu'. Akhirnya lama kelamaan jiwanya mulai layu, semangatnya mulai redup. Gairah berkaryanya semakin kering. Akhirnya ia pun terhenti dari segala harapan yang telah menanti di ujung kerja kerasnya.

Gelar 'aqilu Andalus, lelaki berakal dari Andalus menegaskan soal lain, bahwa kehendak kuat untuk tidak berhenti, atau terhenti, membutuhkan kalkulasi keyakinan yang kuat. Ini tidak sekadar ukuran rasional untung atau rugi. Ini juga benar-benar bukan soal selera suka atau tidak suka melihat gajah. Tapi ini sungguh-sungguh benar soal pemahaman kemengertian, kesadaran dan juga kedalaman penghayatan tentang keputusan apa yang harus diambil seorang muslim di saat-saat ia tergoda.

Begitulah seorang muslim semestinya menata jalan cita-citanya. Semua orang punya harapan-harapannya. Tinggi atau rendah. Jauh atau dekat. Serius atau main-main. Tetapi menjadi seorang muslim yang tak mengenal kata henti dalam berjalan, berusaha, berkarya, adalah pilihan keimanan untuk tujuan nun jauh di akhirat sana. Sebab di atas arah jalan itu hidup seorang muslim menjadi punya arti.

Dalam kehidupan para salafussalih, keberartian tidak diperoleh dalam waktu yang singkat. Tidak pula dengan usaha yang setengah-setengah. Orang-orang besar di dalam tarikh umat Islam yang gemilang, menjadi besar karena mereka tidak pernah lelah menabung untuk investasi keberartiannya, hari demi hari, waktu demi waktu, detik demi detik. Imam Bukhari setiap malam bisa terbangun hingga dua puluh kali, untuk menuliskan hadits-hadits yang dihafalnya. Ia tidak pernah berhenti untuk menjadi berarti. Maka kini ia memetik jerih payah itu. Ia menjadi maha guru ahli hadits sepanjang masa.

Begitupun orang-orang lain seperti Imam Nawawi. Bila seluruh usianya dibagi dengan karya tulisnya, maka setiap hari ia akan menulis tidak kurang dari enam belas halaman manuskrip. Bila diurai menjadi buku-buku masa kini setiap halaman manuskrip itu bisa menjadi berlembar-lembar halaman. Begitu juga Ibnu Hajar Al-Asqalani, ulama besar pengurai Shahih Bukhari, ia menghabiskan seperempat abad usianya untuk menulis karya monumentalnya, Fathul Bari.

Begitulah orang-orang besar menjadi besar karena ia tidak pernah berhenti menginvestasikan untuk dirinya karya kebajikan. Sebagaimana orang-orang jahat, orang-orang kejam, akan terkenang sepanjang masa, karena ia juga menginvestaikan untuk dirinya kekejian dan kekejaman.

Jangan pernah berhenti, sebelum hidup kita punya arti. Sepanjang perjalanan, sejak kita beranjak dewasa, sejujurnya kita telah mengerti apa itu tujuan akhir, cita-cita puncak, dan mimpi-mimpi terjauh kita untuk menjadi sesuatu. Tetapi tidak jarang kita terhempas, kita terlena,kita tersungkur dan kemudian berhenti di tengah jalan. Padahal hidup bagi seorang mukmin, semestinya adalah proses menjadi baik tanpa kenal putus.sebagaimana yang pernah dikatakan oleh seorang enterprener Valentino denzy ‘’ Ketika kita jatuh ,kala kita terpuruk…. Jangan dihitung berapa kali kita terjatuh ,berapa kali kita terpuruk dan berapa kali kita tersungkur , Puluhan ,Ratusan bahkan ribuan kali tak menjadi soal. Namun yang terpenting adalah berapa kali KEMAMPUAN KITA BANGKIT kembali setiap kali kita terjatuh KEMAMPUAN KITA BERDIRI kembali setelah terpuruk. Sebarapa jauh kita terjatuh,seberapa sering kita terpuruk bukan masalah yang penting…. namun yang terpenting dan ini menjadi kunci adalah seberapa sering kita mampu bangkit kembali, kemudian berdiri ,lalu berjalan bahkan kalau perlu berlari untuk memperbaiki ketrpurukan itu.

Dalam Alquran Allah berfirman

Ÿwur (#qÝ¡t«÷ƒ($s? `ÏB Çy÷r§‘ «!$# ( ¼çm¯RÎ) Ÿw ß§t«÷ƒ($tƒ `ÏB Çy÷r§‘ «!$# žwÎ) ãPöqs)ø9$# tbrãÏÿ»s3ø9$# ÇÑÐÈ

dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".

Di dalam Al-Qur'an, sebuah siklus menjadi baik dijelaskan dengan indah oleh Allah dengan pendekatan usia. Bahwa pada mulanya manusia hanyalah seorang bayi. Lalu tumbuh dewasa, lalu bila Allah memberi umur panjang, ia bisa melewati umur empat puluh tahun. Tetapi semua tahapan usia itu harus menjadi sebuah siklus keshalihan.

Allah swt berfirman

“Ï%©!$#ur tA$s% Ïm÷ƒt$Î!ºuqÏ9 7e$é& !$yJä3©9 ûÓÍ_ÏR#y‰Ïès?r& ÷br& ylt÷zé& ô‰s%ur ÏMn=yz ãbrãà)ø9$# `ÏB ‘Î=ö7s% $yJèdur Èb$sWŠÉótGó¡o„ ©!$# y7n=÷ƒur ô`ÏB#uä ¨bÎ) y‰ôãur «!$# A,ym ãAqà)u‹sù $tB !#x‹»yd HwÎ) 玍ÏÜ»y™r& tûüÏ9¨rF{$# ÇÊÐÈ

, "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo'a, 'Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak-anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS. Al-Ahqaf: 17).

Ayat di atas dengan jelas mengisyaratkan tentang siklus kehendak menjadi baik yang tak pernah berhenti, tidak pernah putus. Waktu kecil dibawah asuhan kebaikan orang tua. Begitu beranjak dewasa, ia menyambungnya dengan berbakti. Lalu disebutnya umur empat puluh tahun, menandakan kematangan yang berkelanjutan. Saat itu ia teringat lagi kebajikan kedua orang tuanya. Maka ketika ia memohon untuk bisa bersyukur, atas karunia untuk dirinya dan orang tuanya.

Selain itu, tentu saja, di dalamnya bersyukur atas kebajikan yang bisa ia lakukan. Itu artinya ia tidak memutus jalan hidupnya untuk selalu dalam rantai kebajikan. Begitupun, ketika ia memohon hal yang sama untuk anak-anak dan cucunya. Begitu dahsyat alur siklus keshalihan itu berjalan. Nyaris tak ada yang terputus. Dari seorang bayi, hingga kelak anak cucu bagi bayi tersebut. Begitu seterusnya.

Cita-cita luhur, kehendak kuat, mimpi-mimpi untuk menjadi seorang muslim yang punya arti, tidak boleh terhenti oleh apapun. Apalagi hanya sekadar karena seekor gajah. Hiburan dan rehat ada tempatnya sendiri yang proporsional. Kita harus terus mengejar. Jangan pernah berhenti.

BAROKALLAH………………………………..